Rabu, 15 November 2017

Perangkat Pembelajaran Mata Pelajaran Fisika Tahun Ajaran 2016-2017
Kalender Pendidikan Download
Perhitungan Minggu Efektif Download
Silabus Fisika SMK kelas X Tahun Ajaran 2016-2017 Download
Prota (Program Tahunan) Fisika SMK kelas X Tahun Ajaran 2016-2017 Download
Promes (Program Semester) Fisika SMK kelas X Tahun Ajaran 2016-2017 Download
Berapa Contoh RPP Fisika
1. RPP Besaran dan Satuan Download
2. RPP Gerak Gesek Download
3. RPP Gerak Lurus Download
4. RPP Gerak Melingkar Download
5. RPP Hukum Newton Download


Selasa, 27 Mei 2014


3.5 DIFRAKSI PARTIKEL
Manifestasi gelombang yang tidak mempunyai analogi dalam kelakuan partikel newtonian ialah gejala difraksi. Dalam tahun 1927 Dvisson dan Germer di Amerika Serikat dan G.P Thomson di Inggris secara bebas menyakinkan hipotesis de Broglie dengan menunjukkan berkas elektron terdifraksi bila berkas itu dihamburkan oleh kisi atom yang teratur dari suatu kristal. Kita akan membhaas eksperimen Davisson dan Germer karena tafsirannya lebih langsung.
Davisson dan Germer mempelajari elektron yang terhambur oleh zat padat dengan memakai peralatan seperti pada Gb.3.5. Energi elektron dalam berkas primer, sudut jatuhnya pada target, dan kedudukan detektor dapat diubah-ubah. Fisika klasik meramalkan bahwa elektron yang terhambur akan muncul dalam berabgai arah dengan hanya sedikit ketergantungan dari intenstas terhadap sudut hambur dan lebih sedikit lagi dari energi elektron primer. Dengan memakai blok nikel sebagai target, Davisson dan Germer membuktikan ramalannya.
Ditengah-tengah pekerjaan tersebut terjadi sesuatu peristiwa yang memungkinkan udara masuk kedalam peralatannya dan mengoksidasi permukaan logam. Untuk menguasai oksidasi nikel murni, target itu dipanggang dalam oven bertemperatur tinggi. Setelah perlakuan tersebut, targetnya dikembalikan kedalam peralatan dan pengukurannya dilakukan lagi. Sekarang ternyata hasilnya sangat berbeda dari sebelum peristiwa itu terjadi, sebagai ganti dari variasi yang malar ( kontinu) dari intensitas elektron yang terhambur terhadap sudut, timbul maksimum dan minimum yang jelas teramati yang kedudukannya bergantung daripada energi elektron. Grafik polar yang biasa digambarkan untuk intensitas elektron setelah peristiwa itu ditunjukkan dalam gambar 3.6 metode plotnya dilakukan sedemikian sehingga intensitas pada setiap sudut berbanding lurus dengan jarak kurva (likuan) pada sudut itu dari titik hambatannya. Jika intensitasnya sama untuk semua sudut hambur, kurvanya akan berbentuk lingkaran dengan titik hambur sebagai pusat.
Gambar  3.5 Eksperimen Davisson-Germer
Gambar  3-6 hasil eksperimen Davisson-Germer
Dua pertaanyaan segera timbul dalam pikiran apakah yang menjadi penyebab efek baru ini, dan mengapa tidak muncul sebelum target nikel itu dipanggang?
Hipotesis de Broglie mendorong tafsiran bahwa gelombang elektron didifraksikan oleh target sama seperti sinar-x didifraksikan oleh bidang-bidang atom dalam kristal. Tafsiran ini mendapat dukungan setelah disadari bahwa efek pemanasan sebuah balok nikel pada temperatur tinggi mneyebabkan banyak kristal individual kecil yang membangun blok tersebut bergabung menjadi kristal tunggal yang besar yang atom-atomnya tersusun dalam kisi yang teratur.
Marilah kita tinjau apakah kita dapat membuktikan bahwa gelombang de Broglie merupakan penyebab dari hasil Davisson dan Germer. Pada suatu percobaan tertentu berkas elektron 54eV diarahkan tegak lurus pada target nikel, dan maksimum yang tajam dalam distribusi elektron terjadi pada sudut 50  dari berkas semula. Sudut datang dan sudut hambur relatif terhadap suatu keluarga bidang Bragg digambarkan dalam gambar 3-7 keduanya bersudut 65 . Jarak antara bidang dalam keluarga itu yang bisa diukur melalui difraksi sinar-x ialah 0,91  persamaan Bragg untuk maksimum dalam pola difraksi ialah
Di dini d = 0,91  dan 65 ; dengan menganggap n=1, panjang gelombang  de Broglie  dari elektron yang terdifraksi ialah
Gambar  3.7 difraksi gelombang de Broglie oleh target merupakan penyebab dari hasil Davisson dan Germer

Sekarang kita pakai rumus de Broglie
Untuk menghitung panjang gelombang elktron yang diharapkan. Energi kinetik 54 Ev kecil dibandingkan dengan enrgi diam  yaitu sebesar , sehingga kita dapat mengabaikan efek relativistik. Karena
Maka momentum elektron itu mv ialah


Jadi panjang gelombang elektron itu ialah
Yang besarnya sesuai dengan panjang gelombang yang diamati. Jadi eksperimen Davisson dan Germer menunjukkan bukti langsung dari hipotesis de Broglie mengenai sifat gelombang benda bergerak.
Analisis eksperimen Davisson-Germer sebenarnya tidak langsung seperti yang ditunjuukkan diatas, karena energi elektron bertambah ketika elektron itu masuk ke dalam kristal dengan besar yang sama dengan besar fungsi kerja ( work function) permukaan itu. Jadi kelajuan elektron dalam eksperimen lebih besar di dalam kristal dan panjang gelombang de Broglie yang bersangkutan menjadi lebih kecil daripada harga di luar kristal. Komplikasi lainnya timbul dari interferensi antara gelombang yang didifraksi oleh keluarga lain dari bidang Bragg yang membatasi terjadinya maksimum dan minimum menjadi hanya kombinasi tertentu dari energi elektron dan sudut datang sebagai pengganti dari setiap kombinasi yang memenuhi persamaan Bragg.
Elektron bukanlah satu-satunya jenis partikel yang kelakuan gelombangnya dapat ditunjukkan. Difraksi neutron dan atom secara keseluruhan jika dihambur olek kristal yang cocok telah teramati, dan nyatannya difraksi neutron seperti juga difraksi sinar-x dan elktron telah dipakai untuk menyelidiki struktur kristal.
Seperti juga dalam kasus gelombang elektromagnetik, aspek gelombang dan partikel benda bergerak tidak dapat secara serentak teramati sehingga kita tidak dapat menempatkan yang mana gambaran yang “benar”. Yang dapat kita katakan hanyalah dalam situasi tertentu benda yang bergerak menunjukkan sifat gelombang dan dalam situasi lain menunjukkan sifat partikel. Kumpulan sifat apakah yang jelas terlihat bergantung pada berapa besar panjang gelombang de Broglienya dibandingkan dengan dimensi benda yang terlibat, panjang gelombang 1,66 A dari elketron 54 Ev orde besarnya sama dengan jarak kisi dalam kristal nikel, tetapi panjang gelombang bola golf bergerak dengan 30 m/s, seperti terlihat dalam pasal 3.1 hanya , terlalu kecil untuk menampakkan dirinya.

Jumat, 16 Mei 2014

Catatan Fisika

REFRAKSI PADA PERMUKAAN BOLA



Seperti yang teleh dijelaskan sebelumnya pada sub bab 35-2, bayangan dapat dibentuk oleg refraksi seperti juga oleh refleksi. Untuk memulainya, marilah kita tinjau refraksi disebuah permukaan bola, yakni pada sebuah antarmuka bola di antara dua material optis dengan indeks refraksi yang berbeda. Analisis ini secara langsung dapat diaplikasikan untuk beberapa sisitem optis yang nyata sehari-hari, seperti pada mata manusia. Analisis itu juga menyesiakan sebuah batu loncatan untuk analisis lensa, yang biasanya mempunyai dua permukaan bola ( atau hampir berbentuk permukaan bola ).
Dalam gambar 35.20 sebuah benda dengan jari-jari R  membentuk sebuh antar muka di antara dua material dengan indeks refraksi yang berbeda na dan nb. Permukaan itu membentuk sebuah bayangan P’ dari sebuah benda titik benda P. Kita ingin mencari bagaimana jark benda dan jarak bayangan ( s dan s’ ) dikaitkan. Kita akan menggunakan kaidah tanda sama dengan yang kita gunakan untuk cermin bola. Pusat kelengkungan C berada pada sisi keluar dari permukaan itu, sehingga R adalah positif. Sinar PV menumbuk verteks V dan tegak lurus terhadap permukaan tersebut ( yakni, terhadap bidang yang menyinggung pada permukaan itu di ttitk masuk V). Berkas sinar PV itu lewat ke dalam material kedua tanpa deviasi. Sinar PB, yang membuat sudut  dengan sumbu itu, msuk pada sudut  dengan normal dan direflesikan pada sudut , sinar-sinar itu berpotongan di P’ Sejauh s’ disebelah kanan dari verteks. Gambar itu dibuat untuk kasus na < nb. Jarak benda dari jarak bayangan keduanya adalah positif.
Kita akan membutikan bahwa jika sudut  adalah kecil, sema sinar dari P berpotongsn di titik P’ yang sama, sehingga P’ adalah bayangan nyata dari P. Kita menggunakan bayangan pendekatan yang sama seperti yang kita lakukan untuk cermin bola dalam subba 35-32. Kita sekali lagi menggunakan teorema bahwa sudut luar sebuah segitiga sama dengan jumlah dari dua sudut dalam yang berhadapan, pemakaian teorema ini pada segitiga PBCE dan P’BC memberikan

Untuk sinar-sinar paraksial, dan  keduanya lebih kecil dibandingkan dengan satu radian, kita dapat mengaproksimasi kedua sinar dan tangen dari masing-masing sudut ini dengan sudut itu sendiri ( yang diukur dalam radian). Maka hukum reflaksi memberikan
Untuk sinar-sinar paraksial, dan  keduanya lebih kecil dibandingkan dengan satu radian, kita dapat mengaproksimasi kedua sinar dan tangen dari masing-masing sudut ini dengan sudut itu sendiri ( yang diukur dalam radian). Maka hukum reflaksi memberikan
Dengan mengabungkan persamaan ini dengan yang pertama dari persamaa (35-8), kita mendapatkan




Bila kita subsitusikan ke dlam kedua dari persamaan (35-8), kita dapatkan
bila kita sekarang menggunakan aproksimasi tang , dan seterusnya, dalam persaman (35-9) dan kita juga mengabaikan jarak kecil  persamaan-persamaan tersbut akan menjadi
Akhirnya kita mensubsitusikan persamaan-persamaan ini ke dalam persamaan (35-10) dan membaginya dengan faktor bersama h. Kita mendapatkan